Lembah UGM “Tempat Ngabuburit Asik Sebelum Pandemi”

 


 Salah satu tradisi yang biasanya ada di bulan Ramadhan adalah ngabuburit. Kegiatan ini dilakukan untuk mengisi waktu sambil menunggu buka puasa bagi anak-anak muda selain itu bisa menjadi tempat mencari menu berbuka untuk ibu-ibu yang bingung untuk menyiapkan menu berbuka puasa.

Yogyakarta sebagai Kota Pelajar ada banyak tempat yang asik buat ngabuburit, salah satunya di Lembah UGM (Universitas Gadjah Mada). Lembah UGM terletak di sisi barat Kampus UGM tepatnya di sepanjang jalan dari Fakultas Pertanian, Hukum sampai ujungnya berada di depan Masjid Kampus UGM (Maskam UGM).

Bagi saya, ngabuburit di sepanjang Lembah UGM menjadi salah satu kenangan terindah yang tidak terlupakan meskipun sudah lama meninggalkan Kota Jogja. Kebetulan kost saya yaitu Kost Annisa yang beralamat di Karangbendo CT.3 No. IVb sangat dekat dengan Lembah UGM, hanya perlu jalan kaki berapa menit (lewat dalam kampus) sudah sampai. Kesananya pun beramai-ramai, apalagi banyak anak Kost Annisa yang LDR (Long Distance Relationship). Biasanya kita berangkat selepas ashar dan menyusuri sepanjang Lembah UGM dari ujung sampai ujung. Padahal yang dibeli tidak banyak, tahu kan dompet mahasiswa terbatas, hehe.

Di Lembah UGM banyak dijumpai aneka makanan dari makanan ringan seperti jajanan cilok, siomay, batagor, takoyaki dll. Makanan berat seperti nasi gudeg, soto ayam, ayam penyetan, penyetan lamongan dll. Selain itu aneka minuman seperti sup buah, es the, kolak, bubur tersedia lengkap dengan banyak pilihan penjual dengan harga yang bervariasi dan relative ramah dikantong mahasiswa.

Buat yang rumahnya jauh dari Lembah UGM, jangan takut mencari tempat untuk sholat maghrib. Ada Masjid Kampus UGM yang popular dengan sebutan Maskam. Di Maskam pun ada juga pembagian takjil gratis, cocok nih buat mahasiswa apalagi pas kiriman orang tua belum datang.hehe…

Bagi saya pribadi, meskipun telah lama meninggalkan kota Jogja. Terkadang sebelum adanya Pandemi saya dan suami masih suka menyempatkan ngabuburit di Lembah UGM. Perjalanan dari Magelang yang hanya satu jam memungkinkan untuk bolak-balik walaupun rasanya capek tapi puas terbayarkan bisa nostalgia ngabuburit di Lembah UGM.

Cerita Puasa Saat Pandemi “Kecemasan yang Berujung Rawat Inap di Rumah Sakit”



Puasa Ramadhan 1441 H tepatnya bulan April-Mei 2020 menjadi cerita Ramadhan yang tidak bisa terlupakan. Banyak cerita terjadi di Ramadhan tahun itu. Mulai dari Pandemi Virus Covid-19 yang membuat ibadah tarawih dilakukan di rumah aja, dilarang bukber alias buka bersama dan yang paling berkesan adalah untuk pertama kalinya aku rawat inap di rumah sakit.

Yahhh finally akhirnya, setelah wira-wiri jenguk orang di rumah sakit. Sekarang ngrasain juga nginep di sana.

Penasaran gimana ceritanya aku bisa dirawat di RS?

Jadi, ketika puasa Ramadhan 1441 H, kasus Covid-19 sedang booming2nya, setiap waktu baik media elektronik maupun media sosial ramai memberitakan hal ini, baik dari segi penambahan jumlah terinfeksi maupun efek dari Covid-19.

Nah, karena rasa penasaranku yang tinggi. Aku rajin update informasi perkembangan virus ini, disisi lain aku tidak menyadari ini akan berdampak pada psikisku. Kalau bahasa gaulnya sekarang “Overthinking”.

Karena overthinking yang berlebihan ini membuat imunku juga menurun. Dan pas banget di rumah lagi banyak nyamuk karena belakang rumah kebonan banyak pohon besar. Alhasil aku terkena “Demam Berdarah”.

Awalnya, gejala yang ku alami hanya seperti masuk angin, panas dingin dan sakit kepala tapi tanpa flu. Dan seperti biasa, aku bukan tipe orang yang dikit-dikit suka minum obat, mending aku tahan sakitnya sampai batas aku kuat menahannya. Sampai hari kedua sakitku nggak kunjung membaik malah semakin sakit, dan setiap ngerasa sakit aku ambil Al-Qur’an buat tadarus. Qodarulloh setiap tadarus Al-Qur’an aku nggak ngerasa sakit sama sekali dan ada rasa lapang di dada yang nggak bisa dijelaskan dengan kata-kata, MasyaAllah.

Kembali ke topik, setelah bujuk rayu yang lama banget dari Pak Suami akhirnya hari kedua periksa ke dokter, seperti biasa dikasih obat dan nanti dalam tiga hari ke depan kalau belum sembuh kontrol kembali sekalian periksa di Laboratorium.

Di hari keempat, karena badan sudah entengan. Langsung kumat hobiku, bersih-bersih rumah, tepatnya bersihin kamar mandi dari ngosek kloset sampai nyikat lantai. Belum selesai bersihin kamar mandi, muncul bintik bintik merah di lengan dan banyak banget. Langsung suami curiga dan kita bergegas menuju klinik dokter dan disarankan langsung cek darah di Laboratorium yang sudah direkomendasikan. Sambil menunggu hasilnya, aku beli jus jambu buat jaga-jaga.

Benar dugaanku, hasil lab menunjukkan aku kena demam berdarah dan diharuskan rawat inap di rumah sakit Ungaran. Dokter yang menanganiku sangat baik dan ramah, ketika kita menanyakan apakah ada opsi lain dengan tingkat kesembuhan yang lebih cepat. Beliau memberi nasihat bahwa semua berawal dari pikiran. Yang harus aku lakukan adalah tenang dan percaya bahwa bisa sembuh. Beliau juga menceritakan pasien yang lain dengan kasus trombosit lebih rendah dibawah ku dan bisa melewati fase kritisnya.

Sebelum berangkat ke rumah sakit, aku dan suami masih sempat siap-siap beli makanan buat suami buka puasa, beli air mineral dan roti di minimarket. Di rumah pun aku masih siap-siap sendiri memilih baju mana yang nyaman buat dipakai di rumah sakit.

Buku dan Ipad biar nggak bosen di Rumah Sakit
Setelah sholat maghrib, aku dan suami berangkat ke Rumah Sakit Ungaran. Sesampainya di sana langsung ditangani dokter dan suami mengurus semua administrasi. Sangat-sangat bersyukur punya suami yang cekatan dan sangat siaga menemani dikala kerjaan kantornya banyak, MasyaAllah.

Alhamdulillah dapat kamar yang baru dan nyaman, setelah mendapat infus dan penanganan dokter, trombositku naik dengan pesat dan dalam tiga hari sudah diperbolehkan pulang. Alhamdulillah.

Sekian cerita pengalamanku tentang puasa dikala pandemi dan Alhamdulillah puji syukur tak henti-hentinya bisa melewati ini semua.

5 Tips Semangat Menjalani Puasa Hari Pertama

 Assalamualaikum Wr. Wb

Alhamdulillah nggak terasa sudah memasuki bulan Ramadhan 1443 H. Pastinya temen-temen sudah menyiapkan banyak persiapan baik fisik maupun rohani. Nah berikut tips agar semangat menjalani puasa hari pertama :

1.     Pahami Keutamaan Puasa Ramadhan

Ada baiknya sebelum kita memulai sesuatu khususnya ibadah, kita telah mempelajari terlebih dahulu ilmunya. Dengan mempelajari keutamaan puasa Ramadhan kita akan lebih bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam menjalaninya.

seperti yang tertulis di Muslim.or.id sebagai berikut :

Umar bin Abdil Aziz rahimahullah berkata:

 “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka ia lebih banyak merusak dibandingkan memperbaiki” (Dari kitab Majmu’ Fataawa Ibn Taimiyyah: 2/383).

 

2.     Berlatih dengan Puasa Senin dan Kamis

Tips ini juga cukup ampuh menurutku. Beberapa bulan sebelum memasuki bulan Ramadhan kita bisa merutinkan puasa senin dan kamis sehingga ketika memasuki bulan Ramadhan kita sudah terbiasa dan lebih ringan menjalaninya. 

3.     Sahur dengan menu cukup serat

Ramadhan tahun ini menjadi tahun ketiga saya dan suami menjalani puasa dengan mengurangi makan nasi putih. Bukan nggak makan nasi putih sama sekali, tetapi mengganti dengan karbohidrat kompleks seperti beras merah, nasi jagung dan kentang. Pas waktu sahur pun juga begitu, biasanya untuk sahur dibanyakin makan sayur dan buah yang mengandung banyak serat. Berdasarkan pengalaman saya, makan serat tinggi membuat rasa kenyang lebih lama.

4.     Minum air putih yang cukup

Biasanya beberapa hari sebelum memulai puasa pertama saya minum air putih yang cukup agar terhindar dari dehidrasi. Pastikan pas sahur juga minum air putih dan saya biasanya tiap sahur jarang minum air manis. Alasannya kalau minum air manis akan sering ke kamar mandi aka kencing sehingga bisa menyebabkan kehilangan cairan yang lumayan.

5.     Kurangi aktivitas fisik yang berlebih

Nah ini yang paling penting, dihari pertama jangan deh aktifitas fisik yang berlebih seperti olahraga berjam-jam yang menyebabkan keluar keringat banyak. Karena dihari pertama biasanya tubuh sedang beradaptasi dan biar tetep semangat sampai menjelang berbuka aktivitas sewajarnya.

Sekian tips dari saya biar tetep semangat dihari pertama. Itu berdasarkan pengalaman saya ya, dan mungkin jika temen-temen mau menambahkan tips lain, silahkan tulis di kolom komentar.

Dan semoga kita semua bisa menjalani ibadah Puasa Ramadhan 1443 H dengan khusyuk, lancer dan sehat sampai akhir. Aamiin ya Rabbal’alamin.

Mohon maaf lahir batin semua.

 

 Sumber bacaan :

https://muslim.or.id/27361-berilmu-sebelum-beramal.html

Ibu Rumah Tangga yang Kutemui, Sosok Pahlawan yang Sangat Berjasa bagi Keluarganya

Sop Keong andalan ibunya ^_^
10 November 2021 diperingati sebagai Hari Pahlawan. Pahlawan yang sangat berjasa dalam memperjuangkan kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Di era sekarang ini, banyak sekali sosok pahlawan yang sangat berjasa dalam hidup kita, dari lingkungan terdekat yaitu orang tua dan keluarga.

Aku jadi teringat sosok seorang ibu yang aku temui dua hari yang lalu ketika sedang tugas luar. Saat itu selesai kegiatan kami disuruh singgah di rumah ketua kelompok tani, kebetulan ketuanya juga berprofesi sebagai guru Matematika yang saat itu sedang mengajar di sekolah. Dan kami disuruh menunggu karena mendekati jam istirahat.


Rumah beliau layaknya rumah di desa pada umumnya, berbentuk limasan dengan halaman yang luas. Di sekitar pagar ditanami pohon mangga, jambu air dan belimbing menambah sejuk halaman saat siang hari. Saat masuk ruang tamu, aku bisa merasakan kehangatan rumah itu, tertata apik dan rapi dengan hiasan disudut berwarna coklat senada dengan warna rumah. Di meja telah tersedia suguhan air putih kemasan dan makanan ringan.

Dari dalam rumah keluar seorang ibu dengan ramah menyambut kami, beliau adalah istri dari ketua kelompok tani. Disusul anak perempuannya menyuguhkan buah-buahan terdiri dari kelengkeng, jeruk, pisang dan mangga. Paket komplit. Lama kami ngobrol ngalor ngidul. Dan tibalah beliau menawari kami makan siang. Menunya bukan sembarangan, Sop Keong yang menjadi menu andalan ibunya, awalnya aku agak ragu, setelah dicicipi rasanya maknyus banget.

Dari awal melihat ibu itu, aku penasaran sekali. Apalagi ketika sebelahan sama anak gadisnya, seperti kakak adik. Beliau tingginya sekitar 165 cm. Mengenakan gamis dengan jilbab terusan panjang, senyum selalu menghiasi wajahnya membuat kecantikan alaminya semakin terpancar. Akupun memberanikan diri menanyakan umur beliau. Bak gayung menyambut, beliau menjawab banyak rasa penasaranku dengan menceritakan tentang keluarganya.

Semakin banyak beliau bercerita, kekagumanku semakin besar padanya. Beliau bercerita dengan kerendahan hatinya tapi terpancar rasa bangga dalam dirinya. Can u imagine that ??

Beliau yang sampai saat ini namanya bahkan aku belum tahu, sekarang berumur 42 tahun. Menikah diusia muda dengan seorang guru matematika. Sekarang mempunyai 3 (tiga) orang anak, yang pertama berumur 22 tahun baru lulus kuliah mengambil jurusan yang sama dengan bapaknya yaitu matematika. Anak kedua saat lulus SMA mendaftar di Kepolisian, langsung diterima dan sekarang sedang melanjutkan studi sarjana mengambil jurusan Psikologi. Jarak umur anak pertama dan kedua hanya selisih 1 tahun lebih. Anak ketiga masih kelas 4 SD.

Beliau menceritakan suaminya sering mengundang teman-temannya datang ke rumah dan mencicipi masakan andalan istrinya yaitu sop keong dan soto. Aku bisa membayangkan betapa bangganya suaminya mempunyai istri seperti beliau. Terakhir kemarin temen-temen suaminya di Magister Matematika datang reuni di rumah.

Ketika aku menyanjung beliau, dengan tersipu malu beliau mengatakan “ Kulo meng ibu rumah tangga mbak”. Kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia “ Saya hanya ibu rumah tangga mbak”.  Dari jawabannya, tidak ada perasaan minder atau malu, yang ada rasa puas dan bangga, tetap dengan kerendahan hatinya.

Yang menjadi point kekaguman saya antara lain :

-     -  Beliau menikah diusia yang sangat muda tetapi bisa sukses mendampingi suaminya dan anak-anaknya mengejar cita-cita. Suaminya bisa sampai Magister, bahkan menjadi panutan di desanya. Ketika kami bertamu, ada warga yang akan minta petunjuk pada suaminya.

-     -  Dari segi spiritual, beliau berdua sudah berhaji. Kalau dianalisa dari ceritanya, beliau mempunyai anak ketiga sudah berhaji. Jika anaknya sekarang berumur 10 tahun, berarti beliau berhaji diumur  sebelum 32 tahun. MasyaAllah, padahal kebutuhan anak pasti sedang banyak-banyaknya dan yang bekerja hanya suaminya. Dari sini aku bisa belajar, kalau rejeki tidak hanya dari gaji dan segala niat baik pasti akan ada jalannya.

-   -  Kedekatan dan kehangatan dengan anak-anak seperti teman, aku melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana pola komunikasi ibu dan anaknya terlihat dekat dan hangat sekali, sering melempar senyum satu sama lain. Dan anaknya, walapun ‘kids jaman now’ tp bahasanya santun dan memakai bahasa jowo alus. Si adik bungsu ketika pulang sekolah dan lapar, tidak sampai merengek dan menunggu dengan sabar kakaknya menyuapi. Dan kakaknya walaupun sudah remaja mau menyuapi adiknya dengan telaten.

-      - Tanpa melupakan kewajibannya, beliau padai merawat diri. Ketika temanku iseng bertanya kenapa nggak buka warung aja, beliau menjawab klo saya buka warung nanti bapak dan anak-anak nggak ke urus. MasyaAllah, dalam pengambilan keputusan pun pertimbangan beliau tetap keluarga menjadi priooritas utama dan pertama.

Kenapa saya angkat cerita ini. Karena saya sangat kagum pada beliau yang masih sangat muda tetapi bisa sukses mengurus rumah tangga. Tidak ada rasa minder dan terbebani dengan tugas dan tanggung jawab yang banyak, justru beliau sangat menikmati dan saya berfikir untuk menuangkan dalam bentuk tulisan agar tidak hilang dalam ingatan sehingga bisa saya kenang ketika membaca ulang dan semoga bisa menginspirasi para perempuan, istri ataupun ibu lain diluar sana. Mau menjadi ibu rumah tangga atau bekerja itu semua adalah pilihan masing-masing. Yang pasti semua istri dan ibu menginginkan yang terbaik untuk keluarganya.

 

NB : Nama dan lokasi saya samarkan, jadi tidak ada unsur mengumbar identitas. Tulisan ini dibuat semata untuk bisa menginspirasi diri sendiri dan perempuan lain di luar sana.

 

With love,

Dian handari

Buat Kamu Yang Masih Suka Galau dan Overthinking. Baca ini yukk....


Dua hari yang lalu, saat sedang asik berselancar di youtube sambil mendengarkan musik akustik, tanpa sengaja mata ini tertuju pada video tauziah Ustad Felix Siauw dengan judul “Agar Tenang Jiwamu”.  Video ini berdurasi 23:26 menit. Yang jadi penasaran, kenapa video ini tiba-tiba muncul di beranda padahal sudah agak lama tidak mendengarkan tauziah beliau.

Menjawab rasa penasaranku, akhirnya kubuka video tersebut. MasyaAllah ini video yang bisa menjawab masalah kawula muda zaman sekarang. Kebanyakan anak muda zaman sekarang terjangkit penyakit yang penyebab dan obatnya susah ditemukan, yaitu penyakit galau, overthingking, dan kecemasan berlebih.

Dalam videonya Ustadz Felix Siauw menjelaskan bahwa kebanyakan kegalauan disebabkan karena manusia seringkali mencampuri urusannya Allah.  Seharusnya tugas manusia adalah mengerjakan bagiannya dengan memaksimalkan ikhtiar dan menyerahkan hasil akhir pada Allah. Dengan bahasa yang mudah dipahami, beliau menjelaskan melalui perumpamaan memanah.

Jadi ibaratnya memanah, terbagi menjadi dua bagian yaitu urusannya manusia dan urusannya Allah. Mencari panah dan busur terbaik, memasang vanes yang paling bagus, mempelajari cara menarik dan berdiri, mempelajari teknik-teknik memanah sampai cara memegang panah, itu menjadi urusan kita sebagai manusia harus berusaha yang terbaik. Tetapi ketika kita melepaskan panah maka itu sudah menjadi takdirnya Allah.

Maka ketika kita berhasil memanah dan tepat ke sasaran, yang wajib dipuji itu Allah dengan mengucap “Alhamdulillah”. Namun kalau tidak tepat jangan menghina atau mengejek pemanah ataupun mengeluh, tetapi ucapkan “Alhamdulillah ala kulli hal” artinya Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan.

Masih terkait kajian Ustadz Felix Siauw, sebagai manusia biasa terkadang kita susah membedakan mana yang menjadi urusan kita dan mana bagiannya Allah. Sehingga beliau menyarankan untuk banyak-banyak berdoa seperti yang dilakukan para ahli ilmu. Doanya sebagai berikut :

“ Ya Allah... aku mohon beri aku kekuatan untuk mampu mengubah apa yang bisa aku ubah. Dan berikan aku kesabaran untuk bisa bersabar atas perkara yang tidak bisa aku ubah. Dan berikan aku kebijaksanaan untuk bisa membedakan keduanya. Aamiin”.

 

Sekian rangkuman ini aku tulis, maaf klo ada kesalahan kata ^_^